Indosat

Keuangan Indosat 2025 Tumbuh Solid, Jadi Modal Ekspansi AI dan Transformasi Digital 2026

Keuangan Indosat 2025 Tumbuh Solid, Jadi Modal Ekspansi AI dan Transformasi Digital 2026
Keuangan Indosat 2025 Tumbuh Solid, Jadi Modal Ekspansi AI dan Transformasi Digital 2026

JAKARTA - Performa keuangan PT Indosat Tbk. (ISAT) sepanjang 2025 dinilai menjadi pijakan penting untuk menjaga laju pertumbuhan pada tahun berikutnya. Capaian tersebut memperlihatkan fondasi bisnis yang dinilai cukup solid di tengah dinamika industri telekomunikasi yang semakin kompetitif.

PT Indosat Tbk. (ISAT) dinilai memiliki modal yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2026 setelah mampu membukukan hasil positif sepanjang 2025. Hal itu diungkapkan Chris Muckensturm, industry analyst dari Bloomberg Intelligence, dalam laporan terbarunya.

Menurut dia, prospek perseroan tetap terbuka lebar seiring adanya sejumlah faktor pendukung yang mulai menunjukkan hasil. Stabilitas margin dan peluang pertumbuhan baru menjadi kombinasi yang memperkuat posisi perusahaan.

Prospek positif itu, jelasnya, didukung oleh rerata pendapatan per pelanggan atau average revenue per user (ARPU) yang meningkat dan kontrak cloud AI. Dia memperkirakan, margin EBITDA perseroan akan tetap relatif stabil pada 2026 dengan potensi peningkatan bergantung pada perubahan komposisi pendapatan.

“Indosat tampaknya berada di posisi yang tepat untuk melampaui pertumbuhan laba yang ditargetkan, karena ARPU seluler yang lebih tinggi dan prospek kontrak cloud AI yang sehat mendukung pemulihan pendapatan dan EBITDA tahun ini,” jelas Muckensturm dalam laporannya, Selasa (10 Februari 2026). Pernyataan itu menegaskan optimisme terhadap kinerja operasional dan keuangan ISAT.

ARPU Naik dan Kontrak Cloud AI Jadi Penopang Utama

Kenaikan ARPU seluler menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan pendapatan Indosat. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan nilai dari basis pelanggan yang ada.

Selain itu, ekspansi pada layanan berbasis cloud dan AI turut membuka sumber pendapatan baru. Permintaan terhadap layanan GPU-as-a-service diperkirakan ikut mendorong peningkatan belanja modal perseroan.

Muckensturm menilai margin EBITDA pada 2026 berpotensi tetap stabil dengan ruang kenaikan tertentu. Hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana komposisi pendapatan berkembang sepanjang tahun berjalan.

Kehadiran PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk., yang merupakan hasil merger antara PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN), memang diakui akan menghadirkan tantangan yang dapat mengikis keunggulan jaringan Indosat. Hal itu pun, ungkap Muckensturm, membuat lelang spektrum yang akan datang menjadi faktor penting bagi kinerja ISAT.

Hasil lelang, bersama dengan peningkatan permintaan GPU-as-a-service, akan meningkatkan belanja modal perseroan di atas target Rp13 triliun. Namun demikian, strategi belanja tersebut dinilai masih berada dalam koridor yang terukur.

Belanja Modal dan Arus Kas Tetap Terjaga

Walau potensi kenaikan belanja modal terbuka lebar, perusahaan diyakini tetap mampu menjaga kesehatan arus kas. Proyeksi pertumbuhan kas operasional disebut dapat mengimbangi kebutuhan investasi tambahan.

Namun, Muckensturm menegaskan bahwa hal itu sebagian besar akan diimbangi oleh pertumbuhan arus kas yang kuat. Dengan demikian, tekanan terhadap struktur keuangan perusahaan dinilai masih terkendali.

Muckensturm menambahkan bahwa satu katalis lainnya adalah kehadiran anak usaha ISAT yakni FiberCo yang diperkirakan dapat segera melantai di bursa. Langkah ini dinilai dapat membuka ruang valuasi baru bagi grup usaha Indosat.

FiberCo merupakan perusahaan patungan antara Indosat, Northstar Group bersama Arsari Group, perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo. Perusahaan patungan yang mengelola jaringan serat optik lebih dari 86.000 kilometer itu dibentuk dengan nilai investasi Rp14,6 triliun.

“Potensi pencatatan saham unit FiberCo yang baru dibentuk akan menjadi katalis peningkatan peringkat meskipun menghadapi tantangan pasar,” pungkas Muckensturm. Pernyataan ini memperlihatkan adanya peluang sentimen positif dari aksi korporasi tersebut.

Laba Bersih 2025 Tumbuh Dua Digit dan EBITDA Stabil

Dalam laporan sebelumnya, ISAT mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih 2025 senilai Rp5,51 triliun. Angka itu bertumbuh 12,2% secara tahunan dari Rp4,91 triliun.

Pertumbuhan laba bersih ISAT terutama disebabkan kenaikan pendapatan, penurunan beban karyawan, pemasaran, beban lain-lain neto dan kenaikan penghasilan (beban) operasional lain-lain neto. Hal itu diimbangi oleh kenaikan beban penyelenggaraan jasa, umum, administrasi, penyusutan dan amortisasi.

Manajemen Indosat menyampaikan EBITDA perseroan naik 0,8% YoY menjadi Rp26,59 triliun dengan margin EBITDA sebesar 47,1%. Stabilitas margin tersebut mencerminkan pengelolaan biaya yang relatif efisien di tengah tekanan industri.

“Laba bersih tumbuh 12,2% YoY menegaskan fundamental yang solid serta komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” tulisnya dalam info memo, Senin (9 Februari 2026). Pernyataan ini menekankan keberlanjutan strategi bisnis yang dijalankan perseroan.

Pendapatan 2025 Naik Tipis dengan Kontribusi Selular dan MIDI

Peningkatan laba bersih ISAT sepanjang tahun lalu sejalan dengan pendapatan yang tumbuh positif meskipun tipis. Pendapatan Indosat sepanjang 2025 tercatat naik 1,1% YoY dari Rp55,88 triliun menjadi Rp56,51 triliun.

Pendapatan itu bersumber dari segmen selular Rp47,35 triliun, multimedia, komunikasi data, internet (MIDI) Rp8,34 triliun, dan telekomunikasi tetap Rp817,6 miliar. Struktur pendapatan ini menunjukkan dominasi bisnis selular dalam menopang kinerja perusahaan.

Berdasarkan catatan ISAT, pendapatan selular meningkat tipis sebesar 0,7% YoY. Hal itu terutama disebabkan kenaikan jasa nilai tambah.

Sementara itu, pendapatan MIDI meningkat sebesar 4,5% YoY didorong oleh kenaikan layanan IT yang diimbangi oleh penurunan pendapatan konektivitas tetap dan internet tetap. Kinerja segmen ini memperlihatkan pergeseran kebutuhan pelanggan ke layanan berbasis teknologi informasi.

Dengan kombinasi pertumbuhan ARPU, ekspansi layanan AI, serta potensi aksi korporasi FiberCo, Indosat dinilai memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi 2026. Tantangan kompetisi dan kebutuhan investasi tetap ada, namun fundamental keuangan yang kuat menjadi modal utama perseroan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index